Menengok Pembuatan Bakpia Pathuk 75

Kali ini saya menceritakan kehebohan jalan-jalan lintas kuliner di saat saya menikmati kuliah, belum terlalu lama mungkin sekitar 3 tahun yang lalu (hahahaha). Saya dan teman-teman yang berkumpul di suatu komunitas bertajuk Food Club ini, rencananya akan mengadakan jalan-jalan ke pusat bakpia di Yogyakarta. Pusat bakpia yang akan kami kunjungi saat itu adalah bakpia pathuk 75. Saat menginjakkan kaki, aroma kumbu langsung terasa menyergap hidung saya. Di bakpia pathuk 75 ini hanya menyediakan bakpia isi kumbu kacang hijau dan kacang hitam yang kabarnya diambil dari area Blora.

bakpia pathuk 75

Bakpia sebenarnya adalah bukti akulturasi antara Jawa dan Tionghoa. Namun tak banyak lagi yang merasakan aroma Tionghoa dalam kue bakpia. Apalagi setelah kue yang aslinya dari terigu dan isi kacang hijau tumbuk ini sejak sekitar tahun 1980 diberi label “oleh-oleh khas Yogyakarta”, kebanyakan orang tahunya kue itu diproduksi oleh masyarakat kota gudeg.

Berdasarkan referensi yang saya dapat, Goei Gee Oe, keturunan Tionghoa yang tinggal di kawasan Pathuk, Kecamatan Ngampilan, Kota Yogyakarta, adalah orang pertama yang membuat dan memulai berjualan bakpia, tahun 1930-an silam. Ia menjajakan bakpia dalam lemari kaca yang dipikul berkeliling. Dia akhirnya membuka toko di Jalan Ngupasan 55 (sekarang bernama Jalan Bhayangkara 63) yang sekaligus adalah rumahnya, sekitar tahun 1940. Toko itu hingga kini bertahan dengan mengusung merek “Bakpia Pathuk 55”.

Kisah serupa dilakoni Liem Bok Sing, yang tinggal di Jalan Pathuk (sekarang Jalan Karel Satsuit Tubun, tidak jauh dari Jalan Bhayangkara), membuka sebuah toko kecil dengan jualan bakpia, pada tahun 1948.

Usaha yang kini diteruskan cucunya itu lantas terkenal sebagai “Bakpia Pathuk 75”. Hingga tahun 1985, hanya ada satu toko bakpia di jalan tersebut. Karena mulai muncul beberapa toko bakpia di kanan-kiri, maka dipakailah nama “Bakpia Pathuk 75” sebagai penanda.

diantara dua pilihan - kumbu kacang hijau atau kumbu hitam yang enak untuk dicomot !

Belum diketahui persis apakah bakpia ada di negeri China. Dulunya, makanan di sana yang paling mirip bakpia adalah tong cu pia, roti isi daging babi dibungkus tepung terigu, yang ukurannya sedikit lebih besar dari bakpia. Kemungkinan bakpia adalah kreasi warga Tionghoa yang berinisiatif menjual makanan sesuai lidah warga Yogyakarta (Jawa) sehingga diisi dengan kumbu kacang yang terkenal manis.

pekerja sibuk membentuk adonan kulit bakpia

Pertama kali masuk ke dalam area produksi bakpia, hawa sekitar mulai menghangat akibat panas tungku yang menyeruak pada pojokan ruangan. Area produksi ini dipenuhi pekerja dari masing-masing bidang kerja, area kerja bagian pertama bertugas untuk membuat adonan kulit bakpia yang telah selesai diulen dari mixer.

di depan mixer yang sedang mengulen kulit bakpia

Sedangkan, area kerja bagian kedua bertugas untuk mengisi kumbu dan kemudian selanjutnya memasukkan bakpia ke dalam tungku pemanas.

kulit bakpia yang telah dibentuk bulat dibuat ceruk kemudian diisi kumbu

setelah keluar dari tungku perapian, bakpianya masih super panas nih !!

Kumbu yang terletak di area produksi ini memang tidak dikerjakan di pabrik yang kita kunjungi kali ini, sehingga sayang sekali saya tidak memiliki dokumentasi pembuatan kumbu yang rasanya mantap sekali. Bakpia pathuk 75 ini memiliki kekhasan, kulitnya yang terasa sangat kering dan hmmm…kumbunya yang mantap *malah ngiklan*.

bakpia siap dikemas

Setelah bakpia melewati tungku pemanas, akhirnya bakpia siap dikemas dalam kotak. Bakpia ini tahan hingga seminggu bahkan lebih. Hal ini karena sifat produk bakpia yang tidak terlalu banyak kandungan Aw atau air bebasnya sehingga masa simpan lebih lama daripada produk basah lainnya.

Satu hal yang membanggakan, pekerjanya telah sadar akan adanya keamanan pangan yang harus dijaga, yaitu menggunakan masker dan sarung tangan dalam proses pembuatan bakpia.

Yap. Setelah sibuk melihat proses pembuatan bakpia, kita akhirnya belanja bakpia di took yang terletak pada bagian depan area produksi. Lumayan, buat bekal gathering selanjutnya di Benteng Vredeburg. Crunch..crunch..

saya dengan tim food club siap berkelana kembali

(Annisa Paramita)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s