House of Raminten, Café jamu unik bergaya jawa di sudut kota

Hari ini, hari kedua saya berlibur ke jogja tepatnya tanggal 28 Mei 2010, setelah asyik mengunjungi kampus (red: UGM) yang belum genap setahun saya tinggalkan di hari pertama dan bersusah payah mencari janji dengan dosen. Ini waktunya hura-hura. Saya merencanakan akan melancarkan wisata museum hari ini. Ehm. Bau udara jogja di pagi hari yang saya rindukan tiba-tiba merasuk ke dalam hidung saya yang pesek ini hehe. Bau yang sama seperti bau udara yang selama empat tahun ini telah saya hirup. Wah saya jadi kangen makan bubur ayam, maklum semasa masih menjadi anak kuliahan saya gemar menyantap aneka bubur sebagai sarapan saya dari yang bubur ayam khas pasundan, warung bubur khas jakarta di seberang kampus UNY hingga bubur dekat kos yang dipadukan dengan gudeg, makanan khas Jogjakarta.

Saya tiba-tiba teringat sebuah gambar bubur yang sangat menggairahkan di page facebook seorang teman. Perut saya langsung berkoordinasi dengan otak saya untuk mengajukan ide menyantap bubur disana. Yah di House of Raminten, café jamu yang mengandalkan keunikan dalam penyajian menunya termasuk buburnya. Coba aahhh…

 

saya di depan cafe raminten

Berhubung saya sudah tidak berdomisili di daerah Jogja, saya tentu sudah tidak update lagi dengan kuliner terbaru di sini. Saya langsung mengajak teman saya, Vita untuk menyantap sarapan di House of Raminten ini. Untunglah Vita langsung bersedia berkoalisi dengan ajakan perut yang sedang ngidam bubur ini dan akhirnya melajulah kita membelah jalanan jogja di area kota baru ini.

Pertama kali melihat tulisan terpampang besar House of Raminten tepatnya di jalan FM Noto No. 7 Kotabaru Yogyakarta, letaknya persis di samping Mirota Bakery, langsung terbesit keinginan saya untuk mengetahui dari mana sebenarnya nama Raminten ini berasal. Setelah saya cari info sana sini, ternyata nama Raminten didapatkan langsung dari nama tokoh yang biasa diperankan si pemilik café dalam pertunjukan seni jawa. Pemilik café ini mungkin sudah tak asing lagi di area Jogja dan sekitarnya yaitu pemilik yang sama dengan usaha berlabel Mirota, swalayan yang cukup terkemuka disini. Setelah sukses jualan batik berlabel Mirota, Hamzah Hendro Sutikno mencoba peruntungan lain pada salah satu produk budaya asli jawa yang akrab dengan sebutan jamu oyot godhong melalui konsep café yang diangkat, jamu yang dijual tak hanya sekedar minuman berkhasiat namun juga memiliki nilai jual yang bersaing ketat.

ini nih pintu masuk "Raminten" penuh dengan bingkai foto si pemilik saat melakukan operet jawa

Pantas saja, sekejap wangi kemenyan dari dupa menyergap saya ketika melewati sosok patung naga di kedua sudut gapura mengingatkan saya pada wangi dupa di Mirota Batik. Rumah dengan arsitektur jawa klasik ini pun memajang kereta kuda di depan area café. Setelah itu saya melewati gong di depan area masuk dan terdapat bunga-bunga yang dikemas cukup klenik khas budaya jawa. Kita pun langsung memasuki area lantai 2 bangunan House of Raminten. Mumpung masih pagi dan masih sepi, tempat ini memang asyik dibuat bergaya narsis ala jawa di setiap sudutnya sambil memandang jalanan kota baru yang masih lengang.

Seketika saya dan Vita terkesiap melihat pelayan pria yang datang. Mulailah kita seakan akan dibawa ke masa jawa jaman lampau. Pelayan pria yang melayani saya kali itu berpakaian khas pengawal kerajaan dengan baju kutungan sedangkan pelayan perempuannya memakai kemben (wah saya yakin para pengunjung pria pasti betah disini mantengin mbak mbaknya). Takutnya sih mereka masuk angin apalagi kalau mereka harus menghadapi angin malam yang tak cukup bersahabat hehe.. (gak ngebayangin kalo mereka tetap pakai kemben sedangkan ada bekas kerokan menganga di bagian punggung hahaha). Untung saja saya tak bertemu dengan kejadian seperti itu dan sayangnya saya tidak sempat mengabadikan foto mereka.

 

tararaaa....ini menu yang komplit dari "Raminten"

Saya memesan menu bubur dari kertas list menu yang telah dibawakan oleh pelayan sedangkan Vita memilih pisang coklat sebagai panganan kecil di pagi hari. Tentu saja untuk minumnya kita pilih es teh yang bersahabat dengan perut di pagi hari. Untuk urusan menu di House of Raminten ini memang tak perlu diragukan. Berhubung café ini adalah café jamu, tentu saja jamu yang jadi sajian andalan memang tersedia berbagai pilihan dengan beragam khasiat yang ditawarkan. Mulai dari jamu pengobatan maag, diabetes, jantung hingga perawatan wajah, pencerahan, menghilangkan jerawat dan bau badan. Uniknya, jamu juga disajikan ke dalam berbagai bentuk minuman sebut saja wedang pajimatan, es purworukmi, wedang secang, es kunir asem, wedang adu lima, wedang bir Jawa dan wedang jahe. Selain jamu, café ini juga meramu makanan ringan dan makanan khas angkringan jawa yaitu sego kucing yang bisa dipilih single seharga seribu, double seharga dua ribu dan triple seharga tiga ribu. Murah bukan. Khas angkringan jogja tapi nuansa bintang lima.

mulai mengitari "Raminten"

mulai mengitari "Raminten"

Selama menunggu pesanan bubur saya dihantarkan, saya dan Vita berkeliling area dulu di area Raminten. Pantas saja bubur saya lama ternyata ada tulisan unik terpampang di sekitar kursi kami.

 

tulisan unik di Raminten, pemakluman kalau pelayanannya lama ckckck

Untung saja café ini menyiasatinya dengan suasana yang nyaman untuk berkeliling, Pertama kali kami menaiki undakan ke lantai tiga, ternyata hanya jejeran kursi yang mirip dengan tempat kami makan di lantai kedua. Kemudian, kita turun ke lantai satu, wah ternyata ada banyak keunikan di lantai bawah café ini, salah satunya tempat spa perawatan tubuh khusus pria ini (widihhh…). Hal ini ditegaskan juga di kertas menu terpampang tulisan “perawatan tubuh khusus PRIA, meet by order” . hahahaha.. pikiran saya langsung terlintas hal yang bukan-bukan.

 

tempat spa khusus pria (widiiiihh)

Setelah mengunjungi area spa, saya dan vita sempat melihat selintas kedua kuda di belakang area Raminten, kemungkinan besar kuda-kuda itu ditugaskan untuk menarik kereta di depan (yang kabarnya hanya boleh dinaiki tiap minggu wage).

 

saya dan vita di depan kereta kuda

Setelah itu kita melihat area pendopo disertai kursi lesehan dan ada pula kursi yang asyik buat duduk di area dekat pembatik. Yaa. Café ini sengaja mengangkat kekhasan budaya jawa hingga memboyong ibu-ibu tukang mbatik di area café.

 

ibu pembatik di depan ruangan dalam Raminten

Kita lantas berpose sebentar di area seberang dapur, sebuah ruangan lama dipenuhi lilin dan ada sebuah foto wanita bersanggul (hingga sekarang saya belum tahu itu siapa, mungkin si pemilik rumah) beserta perabotannya yang terkesan kuno dan tentu saja kumpulan pelana di ujung ruangan.

di dalam ruangan raminten

di dalam ruangan raminten

Tiba- tiba kami melihat pelayan membawakan bubur datang melintas di saat kita sedang asyik berpose. Lantas kita pun bergegas naik ke lantai kedua. Kaget. Ya itu reaksi yang muncul pertama kali saat melihat bubur. Bubur khas Raminten ini ditata dengan unik diatas gelas besar dengan porsi cukup untuk dua orang sedangkan pisang coklat yang dipesan oleh Vita justru tampak lebih mini dibandingkan dengan di list menu. Hore pilihan saya tepat!!! Hahaha.

saya, bubur, pisang cokelat

saya, bubur, pisang cokelat

Saat mencicipi buburnya, rasa manis dan berkaldu yang langsung terkecap oleh lidah saya. Dasar lidah yogyakarta, apapun makanannya pasti disiram kecap dan agak manis. Suwiran ayamnya tumpah ruah memenuhi mangkok gelas. Wah mantap sekali untuk memenuhi perut saya dan tentu saja Vita, karena saking ngilernya dia jadi ikut mencomot si bubur. Pisang coklat tabur keju yang dipesan oleh vita pun mantap coklatnya. Coklat yang menyiram pisang bakarannya terasa lumer di mulut dan tak terkesan eneg. Yummy…

 

saya dan bubur ayam "terbesar"

Memang semua yang ada di Raminten ini unik, selain pelayannya, buburnya yang ditaruh di gelas. Kabar-kabarnya, coba deh kalau kita pesan minuman susu. Pasti yang datang secangkir gelas dengan area berbahaya wanita (hahahaa…). Ups saya datang kesini di lain waktu dan sudah mencobanya bersama dawet nya yang sungguh besar ckckck. Ini salah satu daya tarik sendiri bagi café ini, penataan dan penyajian tiap makanannya sungguh kreatif dan membuat kita menganga keheranan.

kunjungan saya kedua kalinya akhirnya dapat melihat bentuk cangkirnya yang unik

Wah, selesai sudah acara makan dan berkeliling di Raminten. Sudah puas juga saya berpose di tiap sudut Raminten. Saatnya berpetualang kota Jogja dan memulai perjalanan wisata museum.

 

sekedar berbagi pict, kunjungan saya kedua di Raminten. Es dawet super gede, mendoan, pisang tabur gula serta susu segar...

Semangat jalan-jalan kali ini khusus disponsori oleh perut yang terisi dan energi yang ter-charge akibat si bubur unik khas Raminten. Terimakasih. (annisa)

10 thoughts on “House of Raminten, Café jamu unik bergaya jawa di sudut kota

  1. Kunjungan sore, silahkan mampir ke minuman herbal berkhasiat gujahe & gulajoss, ad program kemitraan senilai 3,5 juta nett jika anda berminat silahkan email ke info@gujahe-kbm.com atau sms/tlpn 021 23986886

  2. Kunjungan siang, silahkan mampir ke site kami minuman herbal berkhasiat ada program kemitraan senilai 35 juta nett, jika anda berminat silahkan mail ke info@gujahe-kbm.com atau sms/ telpn ke 021 23986886

  3. irma says:

    kalo datang perlu reservasi dl ga ya?
    takut penuh… ato langsung dateng aja?

    • chapuccino says:

      langsung datang saja, gak perlu reservasi kok.
      saran saya datang pagi hari, lebih lengang.
      kalo malam, memang suka penuh🙂

  4. irma says:

    ohohoho makasih ya… emang mo kesini… besok sama adik2… ada tamu juga yang mo dateng… jamuan murah tapi menyenangkan dan khas jogja… raminten pas banget nih kayaknya. dan ga malu2in…

  5. rizkiyah says:

    ni salam kenal aq tu penggemar jamu dari remaja tu tapiii setelah nikah suami ternyata punya turunan deabet kira kira cave jamu ada jual jamunya deabeteskah? kalau ada ngepasin suami kejogja biar maqmpir kesana. makasih ya.

    • Annisa Paramita says:

      Sudah kesana, mbak. Coba saja dikonsultasikan ke pelayan mereka. lupa juga jamu godog apa saja yang mereka hidangkan. Selamat berkunjung

  6. Getha says:

    yuuPssttt,,,,,
    aku seRing maKan di situ koq,,,!!!!
    kaRna aku aSli jogja,, ,,😀

    • Annisa Paramita says:

      Wah, saya dulu juga kuliah di jogja dan kota ini memang sangat mengesankan🙂 Berharap bisa tua di jogja juga😀 Salam kenal ya getha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s