Belajar memandang pentingnya waktu dan cinta dari “UNGU VIOLET”

Akhir-akhir ini saya mendapatkan sekotak kiriman kilat dari bude saya di Bali. Isinya novel-novel yang saya pesan dari seminggu lalu. Yah. saya memulai lagi kebiasaan saya, saat sekolah dulu, membaca novel membiarkan pikiran larut dalam kata-kata yang dituturkan oleh sang penulis dan tiba-tiba waktu sudah berjalan lamat, seprai yang ditebarkan di kasur sudah berubah bentuk dan menguarkan aroma yang tak sedap (saking saya bisa lupa mandi dan makan) hahaha. Sungguh kebiasaan yang jarang saya lakukan saat saya sudah berkutat di bangku kuliah diiringi jurnal-jurnal dan rumpian anak kos yang berebut perhatian saya.

Buku yang saya pilih kali ini adalah “Ungu Violet”. Memang rencananya saya tidak ingin membaca novel dengan bahasa berat. Awalnya saya memandang biasa dan agak remeh karena dari covernya sudah tertebak jalan ceritanya (jujur ini bukan karena covernya sih, tapi lebih karena saya sudah lihat film yang diperankan oleh Dian Sastro dan Risky Hanggono ini). Ternyata saya salah dan berbalik arah pikir 180°, buku ini gila! Lebih seru baca bukunya ketimbang liat filmnya (itu subyektif dari pribadi saya). Film yang ditulis naskahnya oleh Jujur Prananto ini, ternyata dituliskan kembali oleh Miranda dengan bahasanya yang sangat nampol. Benar-benar beda hingga saya tergugah untuk menuliskannya di blog saya (nuwun sewu nggih …mbak Miranda….).

Senja itu. Rara menyelipkan jari-jarinya ke dalam rengkuh jari-jari Lando.

Lando merasa sesuatu dalam dada bertaut dengan sesuatu yang lain,

yang terasa begitu dekat, dan menimbulkan bunyi ‘klik’ pelan. Terkunci

Hatinya sudah terkunci.

Tetapi Rara menghilangkan anak kuncinya.

Ini menceritakan kisah patah hati seorang Lando yang ditinggal kekasihnya, Rara akibat kanker otak stadium lanjut. Rara masih ingin memiliki hidup yang sempurna bersama seorang pria yang dapat melindunginya. Dan tentu saja alasan klise tiap wanita pasti membutuhkan kepastian hidup dari seorang pria yang diyakininya dan dia belum siap untuk merasakan penderitaan begitu kuat bila ditinggal oleh Lando.

“Bawa apa untuk bidadari hari ini, Tuan Lando?” candaku. Ia mengucak rambutku main-main. Aku tertawa.

“Bawa hujan, aku ikat di luar. Mau membelai?” jawabnya. Hujan??? Aku suka hujan! Aku mengangguk kuat-kuat.

”Mau, mau! Bawa aku keluar dong. Tuan Lando.”

“Baik, Nona Bidadari. Sabar, ya. Aku panggil Suster Peri dulu.” Secepat kilat kudengar ia merayap keluar.  Pasti mencari suster. Hmm.. suster peri?? Lucu juga ..

Bagian babak penceritaan yang saya suka dari buku Ungu Violet. Dibalik kisahnya yang suram, tersumpil kisah romantis nan tragis setelah Kalin mengalami kebutaan akibat kecelakaan saat dia mengejar Lando. Setelah mendengar pernyataan Lando, dia justru terjebak dalam kegelapan yang menyiksanya. Lando dengan setia menemaninya di rumah sakit dan membawa keceriaan sementara untuk Kalin membiarkan tangannya menerima tetes hujan, menikmati sensasi menggelitik setiap satu titik air jatuh di jari dan telapak, menghirup bau hujan kuat-kuat, merasakan pelukan dan genggaman Lando, dan tentu saja harapan ‘kecil’ di hati Kalin berandai antara dia dan Lando mempunyai jumlah pasir waktu yang sama di dunia ini.

 

Kalindamarita,

Tak sepasti musim dan waktu, rencana manusia kadang tak berjalan seperti harapan.

Kita hanya bisa berkehendak dan berdoa.

Selebihnya ia berkuasa di luar kita.

Tapi kamu tahu, sepasti musim dan waktu, aku mencintaimu.

Selalu.

Seperti matahari yang terus terbit mengawali hari dan terbenam demi malam, aku terus menemanimu.

Sampai nanti, ketika ragaku tak lagi didekatmu.

Perasaanku padamu tak pernah berujung.

Jika aku boleh berharap,

Aku ingin terus berada di dekatmu, Kalin.

Begitu banyak yang ingin kubagi denganmu.

Terlalu banyak yang ingin kutunjukkan padamu.

Tapi kematian bukan pilihan.

Juga cinta.

Bagiku, keduanya adalah hidup.

Keduanya bukan pilihan.

Aku akan menjalaninya dengan ikhlas.

Kalaupun waktu tidak lagi bicara banyak, seluruh diriku akan terus mengatakannya kepadamu

Bahwa aku … Selalu mencintaimu

Lando

Surat yang dititipkan Lando kepada Kalin melalui suster peri setelah proses donor mata selesai dilakukan. Ternyata Lando menyimpan keteguhan seorang remaja penderita kanker otak yang sangat luar biasa di tengah dalamnya cinta yang diberikan ke Kalin.

Dan semua berawal dari sebuah proses singkat dalam kamar gelap.

Sebagaimana aku menemukanmu.

Cantik. Aku menemukanmu dari gambar-gambar yang kuambil, di tengah jenuh dan gamang hidupku. Tetapi kamu rekah seperti bunga Iris, dan aku awas seperti lebah yang mampu menangkap pola-pola warna ultraviolet tersembunyi di kelopakmu, pola warna yang tidak tertangkap mata manusia. Mereka menyebutnya nectar guides.  Ya, kamu seperti bunga dengan nectar guides  yang begitu terang, bahkan ketika aku melihatmu hanya lewat gambar jutaan pixels dari kamera digitalku. Teman-temanku memang menjulukiku Mata Lebah. Karena aku mampu menangkap aura objek dan merekamnya dalam gambar dengan warna-warna tajam. Seperti mata lebah  yang mampu memisahkan ribuan warna, dan mengolahnya dalam sistematika otak yang sama sekali tidak sederhana, dengan volume otak jauh lebih kecil dari manusia. Tapi, bagaimanapun, kamu berbeda. Dari objek berwarna menonjol lainnya.

Kamu cantik. Bukan sekedar cantik, bahkan. Terlalu berwarna untuk mengisi kosong hitam putih hidupku.

Hidupku, Cantik, adalah kenang-kenangan pendek dalam frekuensi tinggi. Kelak, jika kau melihatku lebih dekat, kau akan mencatatku sebagai kenangan yang tak ingin kau ingat. Kau hanya akan menganggapku sebagai bagian singkat dari proses pembelajaran yang dengan cepat akan kaulupakan. Begitulah, kurasa. Seperti orang-orang lain. Mungkin aku seperti sebotol soft drink penghilang dahaga; sesaat kau begitu menginginkannya – tapi kau tahu ia tak terlalu baik untuk dietmu – dan segera setelah tetes terakhir lenyap di balik kerongkonganmu kau sudah melupakannya.

……

Cantik, aku hanya ingin dicintai sesederhana orang-orang lain. Aku orang biasa. Jangan pernah menganggapku istimewa. Ada lagi ang mesti kau ingat. Jika kita kelak saling mengenal. Aku tidak pernah minta dikasihani.

 

Epilog cerita di buku ini, menceritakan kilas balik perjalanan awal kekaguman Lando melihat foto Kalin diantara timbunan foto nya hingga kisah cinta mereka akhirnya diawali. Dari pertemuannya dengan Kalin, seorang penjaga tiket busway yang tidak sengaja terekam dalam kameranya. Dan akhirnya dia terpaut kisah cinta yang sebenarnya tak ingin diulanginya lagi akibat kisah traumatis cintanya dengan Rara. Dia sadar, dia tidak ingin memiliki Kalin karena, saking besarnya cinta yang dia miliki.

 

Seperti tagline buku ini

Begitu sempitnya waktu, begitu besarnya cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s