Sekelumit kisah di Buitenzorg

Tepatnya tanggal 14 Mei 2010, saya tiba-tiba mendapat panggilan dan harus bergegas ke kota Buitenzorg atau sekarang dikenal dengan nama Bogor. Di benak saya memandang nama Bogor, langsung pikiran saya terlintas kota tempat yang memepertemukan kedua orang tua saya sembari menempuh ilmu selama 4 tahun masa pendidikan. Aah..bogor semoga lebih dekat daripada Jakarta pikir saya.

Sesampainya di rumah, saya masih mengentengkan jarak tempuh kota bogor dibandingkan kota Jakarta. Eh ternyata saya salah kira (dasar pengidap penyakit “Buta Geografi” hehehe -_-‘ ) menuju Bogor ternyata harus menempuh jarak yang lebih jauh dibandingkan ke Jakarta. Ada 2 opsi yang ditawarkan saat itu pada saya yaitu menempuh jalur darat dengan bis atau dengan kereta. Berhubung saya suka anti bau bis yang gemar bikin mual, saya memilih jalur kereta untuk mengiring perjalanan saya ke bogor kali ini. Walaupun agak sedikit ribet, karena saya harus turun di Stasiun Kota lantas melanjutkan perjalanan dengan KRL. Ah, masa bodohlah saya kan wanita pemberani (ujar saya dalam hati sebagai penyemangat keberangkatan saya kali itu).

 

jreng jreng ... wanita pemberani versi saya...!!!

Perjalanan yang sangat jauh memang melintasi dari jawa bagian ujung timur hingga ke Jawa bagian ujung barat. Saya langsung bergegas mengendarai motor saya menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya dan memesan tiket kereta untuk malam nanti dan akhirnya singkat cerita,  saya telah duduk dengan nyaman di kereta jurusan Surabaya – Jakarta.

Tiba-tiba sekitar tengah malam saat itu di kereta yang setengah penghuninya tertidur pulas terdengar bunyi ”PRANG…..” Saya yang tengah dilanda rasa kantuk pun terdesak rasa penasaran dan membuka mata saking kagetnya. Ampun, ternyata jendela kaca kereta di samping saya pecah akibat lemparan batu seorang oknum tak dikenal yang ada di stasiun pemberhentian (saya tidak jelas melihat plang stasiun karena, gelapnya malam dan tidak ada penerangan) . Wah, untung saja kaca jendela kereta di samping saya tidak ambrol dan menghantam saya. Hanya beberapa serpihan kaca halus mulai mengotori jaket yang saya kenakan dan tas yang saat itu ada di pangkuan saya. Huft. Beruntunglah saya sebagai wanita, saya lantas bertukar posisi dengan seorang lelaki di samping saya. Semua orang takut juga kalo kejadian seperti ini terulang kembali dan menganggu kenyamanan kami yang setengah terjaga malam itu.

 

kaca yang pecah ! huft .. sukses buat saya terbangun semalaman

Akhirnya, dengan santainya saya melanjutkan tidur saya kembali hingga matahari yang mulai mendesak masuk melewati kelopak mata saya dan saya pun mulai terjaga. Wah, saya telah sampai di Stasiun Jatinegara dan beberapa menit lagi saya akan sampai Stasiun Kota. Setibanya saya sampai di Stasiun Kota, saya lantas berkenalan dengan seorang teman seperjalanan ke kota Bogor. Seorang ibu yang akan menjenguk anaknya di kota Hujan tersebut. Akhirnya saya tidak usah berpusing ria mencari KRL mana yang menuju Bogor. Akhirnya saya pun sampai dengan selamat di Kota Bogor dengan menaiki KRL ekonomi sembari diiringi lambaian hangat dari ibu tadi dan tentunya doa semoga urusan saya disini dilancarkan.

Beruntungnya saya, di bogor saya banyak memiliki teman semasa kuliah yang akhirnya bekerja di Bogor. Dan hari ini saya dijemput oleh Chandra, teman saya yang berlogat jawa sangat kental. Wah kita pun akhirnya bercengkrama diiringi santap sarapan di pusat makanan siap saji di area Taman Topi Square. Perjalanan dilanjutkan ke kos Chandra, saya pun menumpang nonton tivi sebentar di sana (kebetulan ada tim badminton kita berlaga di Thomas Cup). Berhubung saat itu telah tengah hari, Chandra dan temannya pun lantas mengajak saya berkeliling Buitenzorg. Saya hanya bisa melongo melihat kota ini. Wah saya terkagum kagum melihat gedungnya yang bergaya Belanda dan masih terjaga dengan apik. Belum cukup rasanya bagi saya, bila saya tidak mencoba makanan khas Bogor yaitu Asinan. Walaupun kata ibu, Asinan andalan di kota Bogor adalah Asinan Gedong Dalem tapi waktu yang teramat singkat terpaksa melenyapkan hasrat saya untuk berkelana terlalu jauh. Dan sampailah saya, Chandra, dan Imam (Teman Kos Chandra) menuju tempat pemadam lapar di dekat terminal Baranang siang. Berhubung lapar, saya tidak terlalu mengamati nama warung yang saya singgahi tersebut. Saya langsung memesan Toge Goreng, Asinan Bogor dan teh hangat. Saat toge goreng dihantarkan ke hadapan saya bau tauco langsung menyergap hidung saya. Ampun…berlagak sok nyoba makanan Bogor, saya baru nyadar yang namanya Toge Goreng adalah mie basah, toge, kupat dan tahu disiram bumbu tauco.

 

Sialnya, lidah saya masih berasa antik bila menyantap tauco karena, rasanya yang asem dan berbau tak jelas itu. Eh setelah menyantap satu sendok pertama, ternyata saya lantas merubah pikiran negatif saya terhadap rasa tauco. Yang ini beda, tauconya segar dan baunya tidak terlalu tajam. Selain itu yang saya suka bila menyantap makanan di daerah Jawa Barat dan sekitarnya adalah Tahu nya yang padat dan agak kenyal. Sedap… lantas saya melirik santapan saya berikutnya yang tidak mungkin saya lewatkan yaitu Asinan Bogor. Uhm.. saya pencinta rujak, lidah saya langsung bergoyang saat menyantap Asinan buah ini. Paduan nanas, timun, bengkoang, pepaya dan segumpil kacang lantas disiram bumbu asinan menciptakan rasa asam pedas menyegarkan. Waahhh… hari ini saya makan besar. Hehehee…

Imam dan Chandra lantas mengajak saya ke pusat perbelanjaan dekat area kampus IPB yaitu Botani Square. Menurut saya, pusat perbelanjaan ini tidak terlalu besar tapi cukup unik karena, di dalamnya ada gerai pajangan mahasiswa IPB yang letaknya di samping Botani Square, kemudian ada pusat pertemuan (convention hall) di lantai dua Botani Square ini. Setelah puas mengitari mall ini.

Kami lantas jalan kaki mengitari area sekeliling Botani Square. Saya sempat berpose sebentar di Tugu Kujang, ikon senjata khas kota Bogor ini terletak di pusat jalan seberang terminal.

Lantas saya dan teman-teman mengunjungi pusat pasca sarjana IPB di samping Botani Square dan mengitari area taman koleksi IPB.

saya juga mengunjungi area pasca sarjana di IPB dan sempat masuk ke dalamnya serta duduk di ruang kuliahnya (hahahaha…norak sekali saya) tapi menyenangkan sekali menduduki bangku kuliah orang lain dan berlagak belajar disana. nih saya kasih pose saya nampang di depan pascasarjana IPB.

Berhubung hari sudah menjelang senja, dan teman saya Tanto dan Narra telah sampai di kos Chandra (markas kumpul di kota Bogor) kami pun bergegas pulang. Setelah puas bercengkrama dan bereuni kecil menyesap senja di kos Chandra disertai Didi yang datang dari Jaktim. Kita pun melaju mencari makanan malam di Bogor. Dan akhirnya setelah makan malam kita pun berpisah, hanya saya dan Narra serta tanto yang menemani naik angkot malam itu.

 

ki-ka : saya, chandra dan didi

dari ki-ka : tanto, narra

Saya pun akhirnya meyakini tentang Bogor, kota sejuta angkot, saat menginap ke tempat Narra di daerah sekitar gunung salak, Pasir muncang. Uniknya, di Bogor ada angkot yang berkode angka ada pula yang berlabel nama daerah. Selain itu ada dua angkot yaitu MONSTER dan SEXY di bagian kaca angkotnya. Hahahahaa.. Si angkot MONSTER ini jagonya kenceng kencengan alias ngebut sedangkan SEXY jagonya ahli liuk saat macet mendera kota. Lain padang lain belalang, lain kota lain juga angkutan umumnya.

 

angkot di bogor ...byuh byuh

Akhirnya, saya sampai juga di kos Narra dan numpang tidur disana. Wah sejuknya memandang kaki gunung salak yang terlihat nyata di ujung gang. Dan saat pagi hari, mata saya pun lantas sulit membuka saking dinginnya area pasir muncang, suasana dingin saat itu memang lebih enak buat berguling di kasur. Hahaha. Pagi hari pun akhirnya datang tanpa bisa ditolak, Chandra pun datang dan mengajak Hadi, sahabat karib saya. Kita pun lantas asik bercengkrama menceritakan setiap kejadian setelah kita telah lama tidak bertemu ditemani semangkok bubur ayam.  Sekitar jam 12 siang, saya lantas menyelesaikan urusan saya di Ciawi. Saat senja, saya pun lantas mengejar KRL Pakuan Ekspress dan menyampaikan selamat tinggal untuk Buitenzorg menuju ibukota.

 

seorang ibu dan anaknya di KRL pakuan ekspress

Bila ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi.

Bila ada waktunya, boleh saya menyapa Bogor kembali.

Lain kali kalau ada saatnya, saya akan mengupas habis kota Bogor, janji saya dalam hati. Selamat tinggal Bogor…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s