Damainya berwisata di DESA KEMBANG ARUM…..

Wah, kalau kamu warga kota jogja yang udah sumpek ama hingar bingar kota jogja dan pingin kembali lagi melihat damainya desa…ini salah satu pilihan yang tepat.. DESA KEMBANG ARUM…

Di Jogja, kawasan Turi telah menjadi kawasan utama menjamurnya desa wisata. Alamnya yang masih asri, dengan banyaknya perkebunan salak, merupakan aset utama. hal ini karena pedesaan merupakan salah satu alternatif wisata bagi kaum urban yang ingin berwisata dan mengenang kembali masa-masa indahnya di desa (hahaha..^^)

Desa Kembangarum ini terletak di Wetan Kali, Turi, Sleman. Terletak di pedesaan di kawasan Lintas Merapi, desa Kembangarum dapat ditempuh sekitar 45 menit dari kota Jogja dengan kendaraan bermotor. Setelah melewati jalan berliku-liku, sebuah papan nama kecil menyambut kami sebelum memasuki desa Kembangarum.

Gang kecil sebagai jalan masuk dari pinggir jalan utama memang awalnya sedikit meragukan, terlebih dengan papan nama Kembangarum yang kurang terlihat. Namun setelah masuk ke gang yang lebarnya hanya cukup untuk 1 mobil, pemandangan desa yang bersih dan tertata rapi langsung menyergap kami.

Pagar batu yang ditata sedemikian rupa rapinya, tampak menyatu dengan alam, natural dan sederhana. Berbagai tanaman hias ditanam di sepanjang gang. Perpaduan ini jelas membedakan desa Kembangarum dari desa biasa. Suasananya tenang, dengan perumahan tradisional dan udara yang segar.

Berdiri di pertengahan tahun 2005, desa Kembangarum rupanya belajar dengan cepat. Desa yang awalnya hanya merupakan desa biasa berhasil dibangun menjadi desa wisata yang menawarkan berbagai kegiatan alami.

Pohon-pohon salak yang berderet di kebanyakan halaman rumah penduduk merupakan lokasi agrowisata salak. Ini memberikan kesempatan bagi pengunjung yang datang untuk memetik salak dan langsung menikmatinya di kebun.

Tak hanya salak pondoh, salak gading dengan kulit bewarna kekuningan dan rasa yang tak kalah enak juga dibudidayakan di sini. Bahkan salak gading ini menjadi salah satu makanan khas yang ditawarkan. Salak gading yang direbus.

Selain kebun salak, desa Kembangarum juga mempunyai Sungai Tempor yang juga difungsikan sebagai wahana wisata.

Selain itu juga terdapat sungai tempor yang terletak di tengah desa ini. Airnya yang dingin dan segar, serta kedalamannya yang hanya selutut membuatnya semakin menyenangkan. Sungai Tempor memang sangat dijaga kebersihannya. Larangan untuk membuang sampah sembarangan telah diterapkan dan dipatuhi oleh warga sekitar. Tak heran airnya begitu jernih.

miniatur air terjun dari sungai tempor..sungai yang jernih..^^

miniatur air terjun dari sungai tempor..sungai yang jernih..^^

Di desa wisata ini terdapat persawahan. Uniknya, di antara sawah-sawah tersebut telah disediakan bale-bale yang mirip dengan gazebo tradisional Jawa untuk beristirahat, bersih dan terawat. Salah satu gazebo bahkan dibuat dari kayu jati dan memang tampak kokoh, serta jauh lebih ‘mewah’ dari bale-bale pada umumnya.

salah satu contoh gazebo yang terletak di desa kembang arum

salah satu contoh gazebo yang terletak di desa kembang arum

Biasanya pengunjung yang berkunjung disini akan dijamu dengan berbagai jajanan tradisional. Bahkan makan siangnya pun dengan lauk ala pedesaan. Sayur lumbu (daun talas) ditemani dengan telur, tempe, dan krupuk gendar. Makan siang yang sederhana tersebut mampu melengkapi kenyamanan suasana pedesaan yang dirasakan

ni pintu masuk menuju desa kembang aruum

ni pintu masuk menuju desa kembang aruum

Berbagai lomba unik memang sering diadakan untuk meramaikan acara di Kembangarum. Sebut saja lomba balap sepeda onthel di pematang sawah, sambil membawa rumput yang diikatkan pada bagian belakang sepeda. Lalu lomba ngluku, atau dikenal dengan membajak sawah. Lomba ini tentu saja ditujukan bagi para wisatawan yang berkunjung.

Desa Kembangarum juga memberikan fasilitas penginapan bagi mereka yang ingin tinggal lebih lama. Bisa tinggal bersama warga setempat atau menyewa rumah yang disediakan. Sekitar 10 rumah tradisional siap disewakan bagi pengunjung yang berminat.

Harganya masih kekeluargaan dan sangat negotiable. Sekitar Rp 100.000,- per malam, bisa lebih atau kurang, tergantung pada pembicaraan dan keperluan. Dan harga tersebut sudah termasuk makan. Menurut warga, kebanyakan dari wisatawan yang menginap adalah wisatawan manca negara yang ingin mencari suasana yang berbeda.

Kerinduan terhadap suasana pedesaan yang asri, teduh dan santai memang kerap menyerang warga kota. Terlebih mereka yang sangat sibuk di kesehariannya. Keberadaan desa wisata Kembangarum pun dapat menjadi alternatif wisata bagi mereka yang ingin melepaskan kepenatan kota.

oh iya, sebenarnya kalau kamu mau kesini hanya untuk menikmati pemandangannya gratis kok. contohnya seperti yang aku lakukan..wah benar-benar hiburan yang murah, terjangkau dan menyenangkan.. (icha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s